©2019 by Sitor Situmorang. Proudly created with Wix.com

Sitor Situmorang lahir pada 2 Oktober 1924 di Harianboho , satu desa di kaki gunung Pusuk Buhit yang dianggap sebagai tempat berasalnya suku Batak di pulau Sumatra. Ia adalah keturunan keluarga pemangku adat Batak yang merupakan atau diharapkan bertindak oleh paguyuban sebagai teladan dalam pemeliharaan tradisi, tapi diikhlaskan mengikuti pendidikan modern sekolah kolonial Belanda. Sejak sekolah dasar telah meninggalkan tanah kelahirannya memasuki berbagai lingkungan budaya.

Lima tahun pertama sekolah dasar Sitor lalui di Balige, kemudian pindah ke Sibolga di pantai barat Sumatra, di mana dua tahun terakhir sekolah dasar sistem tujuh tahun diselesaikannya. Ia kemudian masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager Oderwijs) di Tarutung pada tahun 1938. Pada pertengahan tahun 1941, Sitor berangkat ke Batavia untuk bersekolah di CMS (Christelijke Middelbare Scholen), sekolah menegah atas di Salemba.

Tetapi sekolah dan cita-cita Sitor untuk menjadi ahli hukum kekandasan karena kedatangan kolonialis Jepang. Setelah bala tentara Jepang angkat kaki seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sitor mulai terlibat dalam badan perjuangan politik Sumatra Utara sebagai redaktur berkala Suara Nasional.

Lalu memasuki Harian Waspada dimana bakat jurnalisme sastranya mulai nampak. Tetap esai, kritik, dan sajaknya baru mulai diperkenalkan ketika Sitor sebagai wartawan Harian Waspada ditugaskan dari Medan untuk meliput suasana revolusi di Yogyakarta ibukota Republik tahun 1947-1948. Saat itu juga ia menjadi wartawan kantor berita nasional ANTARA. Ketika pecah Agresi Militer Belanda II tahun 1948, ia ditangkap Nefis (Netherland Forces Intelligence Service) dan dipenjarakan di penjara Wirogunan, Yogyakarta, sampai penyerahan kedaulatan RI di akhir tahun 1949.

Pada 1950 atas undangan Sticusa (Stichting culture samen werking) atau badan kerja sama kebudayaan Belanda Sitor pergi ke Eropa, terutama Belanda selama setahun kemudian berdiam di Paris dan kembali ke Indonesia pada 1953. Setelah kepulangan inilah namanya semakin menanjak sebagai sastrawan.

Saat itu Sitor menjadi tokoh yang memikat dan lincah dalam pelbagai lapangan kegiatan budaya. Sajak, drama, cerita pendek, cerita film, esei dan kritiknya dianggap memberikan sumbangan penting bagi pencerahan, pembaruan dalam alam seni-kebudayaan Indonesia. Terutama karya sastranya bukan saja isi, tema, kata-kata, dan irama yang baru, tapi juga membawakan kekayaan batin, dari pemikiran-pemikiran. Dari masa ini, buku-buku sajaknya yang telah terbit Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), drama Jalan Mutiara (1954) dan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956) yang memenangkan hadiah pertama untuk sastra nasional tahun 1955/56 dari Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional (BWKN).

Ia juga menunjukan diri sebagai penerjemah yang piawai atas sejumlah buku sastra seperti karya Jhon Wyndham The Day of Triffids menjadi Triffid Mengancam Dunia (1953), drama karya John Galworthy, William Saroyan, Maenocol, Dorothy Sayers, JA Rimbaud, Rabindranath Tagore, Hoornik, Sen Chi Shi. Dimasukinya pula penerjemahan pemikiran kebudayaan dan sejarah, seperti kumpulan esei manusia dua dunia E. du Perron dengan judul Menentukan Sikap dan buku telaah mengenai Multatuli karya Rob Nieuwenhuis, Hikayat Lebak.

Sementara dalam dunia film dari tangan Sitor lahirlah cerita film Darah dan Doa (1950) yang dianggap sebagai tonggak pertama film Indonesia, selain itu ia juga dikenal sebagai kritikus film yang tajam dan memberikan pengajaran kritik di Akademi Teater Nasional (ATNI). Selain bahwa ia terlibat sebagai juri festival-festival film dan diundang dalam kerjasama-kerjasama pembuatan film antar negara, seperti dengan Jepang pada 1956 untuk membuat film tentang masa pendudukan Jepang. Pada tahun ini pula Sitor mendapat beasiswa untuk belajar sinematografi dan seni panggung di Los Angeles (University of Southern California) dan di New York Actor's Studio) Amerika Serikat.

Selain itu masih dalam tahun yang sama, Sitor juga mulai kembali memasuki dunia jurnalistik sebagai redaksi harian Berita Indonesia dan Warta Dunia.

Pada pertengahan tahun 1950 ia mulai aktif kembali dalam lapangan politik dengan memasuki lembaga-lembaga yang tumbuh untuk mendukung gagasan Demokrasi Terpimpin Presiden Sukarno. Sitor terlibat di dalam Dewan Nasional dan kemudian Dewan Perancang Nasional sebagai wakil golongan seniman. Menulis risalah politik Marhaenisme dan Kebudayaan Indonesia pada 1956. Pada tahun 1959 menjadi pendiri serta ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) anak organisasi Partai Nasionalis Indonesia, lalu menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara sebagai wakil golongan seniman dan anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (1961-1962). Dalam masa ini, Sitor banyak menulis dan berceramah tentang hubungan sastra dan politik yang kemudian dikumpulkan dalam Sastra Revolusioner (1965). Namun dari tangannya pada masa ini masih juga buku kumpulan puisi Zaman Baru (1962) dan kumpulan cerpen Pangeran (1963) dan novelet Rapar anak jalang (1964).

Bersama jatuhnya Presiden Sukarno pada pertengahan tahun 1960, ia dijebloskan dalam penjara Presiden Suharto tanpa proses pengadilan. Setelah delapan tahun disekap, ia muncul lagi di panggung sastra dengan arus sastra baru yang mewakili perkembangan baru. Dari masa ini, bukunya Dinding Waktu (1976), Peta Perjalanan (1977), yang memenangkan Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976/1977, cerpen Danau Toba (1981), Angin Danau (1982), dan cerita anak-anak Gajah, Harimau dan Ikan (1981). Ia pun memasuki dunia sejarah dan antropologi dengan Guru Samalaing dan Modigliani "Utusan Raja Rom" (1993) dan Toba Na Sae (1993). Dalam masa itu pula Sitor menulis autobiografinya Sitor Situmorang Seorang Sastrawan '45 Penyair Danau Toba (1981). Selain itu masih dalam masa ini Sitor juga menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.

Pada 1994 terbut kumpulan cerpennya Salju di Paris, lantas pada 2001 terbit lagi kumpulan cerpennya Kisah Surat dari Legian. Kumpulan lengkap cerpen Sitor, Ibu Pergi ke Surga, diterbitkan Komunitas Bambu pada 2011.

Karya-karya Sitor telah diterjemahkan dan dibukukan dalam bahasa Belanda Bloem op een rots dan Oude Tijger (1990) dan Lembah kekal/Eeuwige Valley (2004), Inggris To Love, To Wonder (1996) dan Prancis Paris la Nuit (2001), serta Cina, Italia, Jerman, Jepang dan Rusia. Daya ilham Paris, Prancis yang begitu kuat dalam karya Sitor telah mengantarkannya pada 20 Maret 2003, saat perayaan Hari Masyarakat Penutur Bahasa Prancis Sedunia, dianugrahi Hadiah Francophonie karena dianggap sebagai penyair terkemuka Indonesia telah memberi kontribusi penting dalam mengembangkan bahasa Prancis di Indonesia dan prinsip-prinsip Francophonie yaitu penghormatan serta pengembangan keanekaragaman budaya, perdamaian, demokrasi, dan hak azasi.

 

Sebagai penyair Sitor memang penyair yang bukan hanya menulis dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam satu masa pernah menulis sajak-sajaknya langsung dalam bahasa Belanda dan dalam bahasa Inggris. Sajak yang ditulisnya langsung dalam bahasa Inggris telah diterbitkan, yaitu The Rites of The Bali Aga (2001). 

Pada usianya yang ke-80 di tahun 2004, Sitor masih menunjukkan eksistensinya dengan menggabungkan dua bukunya mengenai sejarah budaya Batak Toba dengan tambahan bahan-bahan baru menjadi buku Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX. Sekaligus juga sebagai penyair ia hadir kembali dengan kumpulan sajak Biksu Tak Berjubah (2004) dan memang sebagai sastrawan Angkatan 45, mungkin ia satu-satunya yang sampai masa-masa menjelang meninggal pada 20 Desember 2014 masih terus menulis sajak.