©2019 by Sitor Situmorang. Proudly created with Wix.com

Sejarah Teluk Tapian Na Uli

Kira-kira dua kilometer di sebelah utara kota Sibolga, di jalan menuju Barus, di kaki tebing terjal Bukit Barisan sepanjang garis pantai barat Sumatra yang menghadap Samudera Indonesia, terdapat sebuah sungai kecil. Di muara sungai kecil yang mengalir ke teluk besar, Teluk Tapiannauli (di peta modern), dulu terletak sebuah dusun kecil dengan pancuran berair bening dan melimpah. Penduduk asli di masa lalu yang terdiri dari kaum migran pegunungan, terutama dari Lembah Silindung di pedalaman, turun ke sana mencari tanah garapan sejak kira-kira abad ke-17. Mereka menyebut pancuran besar ituTapian Na Uli, yang berarti "Pemandian yang Indah". Terletak di antara tebing Bukit Barisan dan Teluk Besar, dengan banyak rawa dan jalur pantai yang sempit, sehingga kurang baik untuk usaha pertanian yang luas.

Penduduk Dusun Tapiannauli tergolong pendatang dari pedalaman Toba. Mereka berasal dari Lembah Silindung yang letaknya relatif paling dekat-dari semua bagian Toba-dengan pesisir pantai barat. Jarak tersebut dapat ditempuh dalam satu-dua hari berjalan kaki, melalui jalan setapak, pegunungan dan rimba raya. Jalan itulah yang menghubungkan Lembah Silindung dengan pantai barat sejak beberapa abad. Jalan setapak yang menjadi urat nadi lalulintas dagang antara pesisir dengan pedalaman, walaupun bukan satu-satunya.

Dari daerah pedalaman Toba (Kabupaten Tapanuli Utara yang sekarang), terdapat jalan setapak alias jalan pengangkut garam (parlanja sira) ke daerah pesisir barat dan timur. Dari hulu Sungai Asahan, daerah Uluan (proyek Sigura-gura Asahan), terbentang jalan setapak menuju Bandar Pulo, pangkalan prasejarah hingga permulaan abad ke-19, hampir seluruh pemenuhan kebutuhan daerah Toba berorientasi ke pesisir barat, yaitu Dusun Tapiannauli, Sorkam dan Barus. Terutama Barus yang sejak berabad-abad (sejak kira-kira abad ke-5) sudah disinggahi perahu-perahu layar antarbenua sebagai pelabuhan pengekspor kemenyan dan kamper (kapur barus).

Dari berbagai distrik Toba (Silindung, Humbang, Toba-Holbung dan Pulau Samosir) terbentang jalan-jalan setapak yang menghubungkan pelabuhan Barus dengan pasar-pasar besar di pedalaman. Paling tidak keempat distrik tersebut masing-masing memiliki satu pasar besar yang disebut Onan saksing atau Onan na marpatik, yang secara harafiah berarti "Lembaga Pasar Besar" yang dilindungi oleh hukum/undang-undang Paguyuban Adat.

Pelabuhan Barus selama berabad-abad berfungsi sebagai pintu ke dunia luar bagi pedalaman Toba. Perdagangan antara daerah pesisir dan Toba menjadi pintu masuk bagi pengaruh luar, baik di bidang kebudayaan maupun di bidang keagamaan dan kemasarakatan (politik), yang meliputi unsur Hindu-Buddha sebelum abad ke-13 dan pengaruh kebudayaan pesisir (Melayu-Islam) sejak abad ke-15.

Dunia luar bagi penduduk Toba di masa lampau adalah semua daerah tetangga. Dairi-Pakpak dan Karo di sebelah utara, Simalungun di pantai timur Danau Toba, termasuk Asahan dan Angkola-Mandailing di sebelah selatan. Sementara di sebelah barat adalah daerah pesisir antara Teluk Tapiannauli dan Pelabuhan Barus. 

Tentu saja Toba mempunyai hubungan dagang dengan Dairi-Pakpak, Karo dan Simalungun. Bagi Dairi-Pakpak, Lembah Silalahi-Paropo merupakan daerah kontak sosial dan dagang. Tongging yang terletak di antara Toba (Samosir) dan Karo juga berfungsi sama. Semuanya berada di pantai utara Danau Toba.